Selasa, 17 Februari 2026

Stand Up Comedy "Mens Rea" Pandji Pragiwaksono Jadi Sorotan, Ini Respons Publik dan Tokoh

Penulis
Iklan
Stand Up Comedy "Mens Rea" Pandji Pragiwaksono Jadi Sorotan, Ini Respons Publik dan Tokoh
Stand up comedy Pandji Pragiwaksono jadi sorotan publik dan laporan polisi. Dok. Instagram.com/@pandji.pragiwaksono

Wilispost.com - Stand up comedy "Mens Rea" karya Pandji Pragiwaksono yang tayang di Netflix tengah memicu pro kontra di tengah masyarakat Indonesia. Karya tersebut tidak hanya menjadi perbincangan di media sosial, tetapi juga mendorong laporan polisi karena dianggap melampaui batas kritik terhadap isu politik dan kekuasaan.

Indeks percakapan digital menunjukkan keterlibatan publik yang masif, dengan jutaan interaksi dalam beberapa hari terakhir sejak kontroversi itu muncul. Karya tersebut tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga menjadi tolak ukur diskusi tentang peran seni dalam membahas isu politik dan kekuasaan di tengah masyarakat yang semakin sensitif.

Laporan polisi telah dilayangkan ke Polda Metro Jaya oleh organisasi yang mengaku masyarakat Muslim. Laporan itu terkait dugaan narasi fitnah dan penghinaan atas kelompok besar di Indonesia, menurut pelapor Rizki Abdul Rahman Wahid. Aksi hukum tersebut menjadi sorotan karena memicu diskusi tentang sejauh mana seni komedi bisa dipertanggungjawabkan secara hukum di Indonesia.

Di media sosial, banyak warganet menyatakan dukungan terhadap Pandji sebagai simbol kebebasan berekpresi dan kritik sosial. Analis media menyebut dua pertiga percakapan online bernada positif terhadap pandangan kritis yang disampaikan oleh komika tersebut. Fenomena ini menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk mempertahankan ruang bebas berekspresi dalam konteks politik yang semakin kompleks.

Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, menyatakan bahwa humor seperti yang ditampilkan Pandji adalah bentuk kritik sosial yang menyentil tanpa bermaksud menghina. "Humor yang bijaksana bisa menjadi sarana kritik konstruktif yang tidak melanggar norma sosial," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya pemahaman dari kalangan agama bahwa seni komedi memiliki ruang ekspresi asalkan tidak bermaksud menyerang secara langsung.

***

Iklan
Penulis

Tags

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini