Padahal, pengetahuan leluhur sebenarnya sarat makna ekologis. Menurutnya, dominasi cara pandang Barat dalam ilmu pengetahuan sering membuat kearifan lokal dipandang sekadar tradisi tanpa dasar ilmiah.
“Kita ini sudah berjarak pada pengetahuan, khususnya pengetahuan leluhur,” ujar Dr Mohammad Eka Yulianto.
Dosen Teknik Geologi Universitas Mulawarman, Dr Retno Anjarwati, menambahkan kawasan lereng Gunung Slamet memiliki karakter batuan vulkanik. Batuan ini subur namun rentan longsor.
Karena itu, ia menilai kearifan lokal perlu dihidupkan kembali. Tujuannya agar masyarakat lebih sadar menjaga lingkungan.
Senada dengan itu, budayawan Ki Herman Sinung Janutama menegaskan posisi Tegal sangat penting dalam peta kebudayaan Nusantara.
“Berbicara Tegal identitasnya berbeda dengan yang lain karena posisinya berada di tengah Pulau Jawa,” ujar Ki Herman Sinung Janutama.
Teguh Puji Hartono menutup diskusi dengan menekankan pentingnya membangun kembali infrastruktur kebudayaan. agar pengetahuan tradisi dapat hidup dan membimbing kebijakan pembangunan yang lebih bijak.
***