Materi genomik perlu lebih aplikatif dan lintas-disiplin, memasukkan dimensi etika, hukum, dan sosial. Ini agar calon tenaga kesehatan siap menghadapi kasus nyata, bukan hanya soal pilihan ganda.
Pembenahan kedua menyentuh etika di ruang kelas, karena DNA menyimpan identitas biologis yang berdampak psikologis, sosial, dan keluarga. Jika data genomik personal mahasiswa dijadikan materi pembelajaran, ada risiko tekanan sosial, kecemasan, dan kebocoran informasi.
Prinsip yang harus ditegakkan adalah persetujuan yang sungguh-sungguh, hak untuk menolak tanpa konsekuensi akademik, serta tata kelola perlindungan data yang ketat. Ini penting agar pembelajaran tetap manusiawi dan tidak mengorbankan martabat peserta didik.
Pembenahan ketiga adalah komunikasi publik untuk melatih kewaspadaan terhadap klaim.
Di luar kampus, genomik kerap dipasarkan sebagai "kunci awet muda" atau "diet berbasis DNA" dengan bukti yang belum tentu kuat. Literasi genomik yang baik perlu membekali publik dengan pertanyaan sederhana namun tajam, seperti apa manfaat klinisnya, seberapa akurat, apa risikonya, dan siapa yang menyimpan data.
Penerimaan masyarakat terhadap genomik bukan hanya soal teknologi, melainkan soal kepercayaan yang tumbuh dari pemahaman, transparansi, dan rasa aman. Solusi pertama dimulai dari hulu, yaitu membangun literasi kesehatan genomik sebagai agenda pendidikan kesehatan berjenjang.
Ini mencakup SMA/SMK kesehatan hingga pendidikan kedokteran, keperawatan, farmasi, dan pelatihan dokter layanan primer. Fokusnya adalah melatih kemampuan praktis, seperti menjelaskan risiko dengan bahasa awam, kapan pemeriksaan genetik diperlukan, membaca hasil yang belum pasti, dan mengambil keputusan klinis secara bertanggung jawab.
Ekosistem konseling genetik juga perlu diperkuat, karena hasil genomik tanpa pendampingan mudah berubah menjadi salah paham atau keputusan keliru.